Cara Membuat Template Canva Sendiri (dan Menjualnya Secara Legal)
Salah satu kekuatan terbesar Canva dalam hal desain adalah kemudahan penggunaannya. Bahkan orang yang benar-benar awam desain pun bisa menghasilkan visual yang “kelihatan profesional” dalam waktu singkat. Alasannya sederhana: Canva menyediakan template yang jumlahnya banyak, kualitasnya cukup bagus, dan mudah dimodifikasi.
Yang menarik, template di Canva bukan cuma yang bawaan aplikasi. Ada juga template yang beredar dalam bentuk link—biasanya teman kamu share, atau kamu temukan dari internet—dan link itu bisa kamu “copy” ke workspace Canva kamu.
Kamu pernah tidak, menerima template Canva yang dishare oleh teman? Atau dapat link template dari internet, lalu saat dibuka tampilannya ada tombol seperti “Use template” / “Gunakan template”? Nah, itulah yang dimaksud template link.
Kabar baiknya: kamu pun bisa membuat template seperti itu sendiri. Bahkan, template Canva bisa dijual secara legal (dengan catatan: tetap mematuhi aturan lisensi Canva dan tidak asal “resell” template orang lain).
Di artikel ini kita bahas:
- apa itu template link di Canva dan bedanya dengan share biasa,
- cara membuat template dari nol,
- cara mengubah desain eksisting menjadi template,
- checklist agar template kamu rapi, mudah dipakai, dan layak dijual.
Table of Contents
- Kenapa Canva Sangat Kuat untuk Pemula
- Template di Canva: Bawaan vs Template Link
- Hal Penting Soal Lisensi (Supaya Aman Dijual)
- Cara Membuat Template Canva dari Nol
- Cara Mengubah Desain Eksisting Menjadi Template
- Checklist Template yang Siap Dipakai (dan Siap Dijual)
- Cara Membagikan Template: Template Link
- Ide Produk Template yang Laku
- Penutup
Kenapa Canva Sangat Kuat untuk Pemula
Kalau kamu baru mulai desain, Canva terasa “nolong banget” karena template mengurangi tiga hambatan utama:
- Mulai dari nol itu bikin bingung.
- Layout dan spacing sering berantakan.
- Waktu kebuang untuk urusan teknis (ukuran, export, font pairing).
Dengan template, kamu tinggal pilih format (IG Post/Story/Carousel, presentasi, flyer), lalu ganti teks, warna, dan foto. Buat bisnis, ini artinya produksi konten jadi jauh lebih cepat.
Template di Canva: Bawaan vs Template Link
Secara praktis, ada dua jenis template yang sering kamu temui:
1) Template bawaan Canva
Ini template yang ada di panel template Canva. Kamu bisa cari berdasarkan keyword, tema, atau format.
Kelebihannya:
- gampang ditemukan,
- biasanya sudah sesuai ukuran platform,
- tinggal pakai.
Kekurangannya:
- sering dipakai banyak orang, jadi desainmu bisa terasa “pasaran”,
- untuk beberapa niche tertentu, template yang spesifik kadang tidak banyak.
2) Template link (template yang dishare)
Ini template yang dibagikan via link. Contohnya:
- teman mengirim link template untuk feed IG,
- kamu membeli template dari marketplace lalu dapat link,
- kamu menemukan free template dari komunitas.
Biasanya saat link dibuka, Canva akan menampilkan halaman yang mengarahkan kamu untuk membuat salinan template tersebut ke akun/workspace kamu.
Template link ini yang biasanya dipakai creator untuk mendistribusikan template. Karena praktis: pembeli tinggal klik link, lalu template otomatis masuk ke Canva mereka (sebagai salinan).
Hal Penting Soal Lisensi (Supaya Aman Dijual)
Sebelum masuk ke cara membuat template, ada satu bagian yang penting supaya kamu tidak “kepleset”: soal lisensi.
Canva pada dasarnya mengizinkan jual-beli template, tetapi ada aturan yang harus dipatuhi. Intinya:
- Jangan menjual ulang template Canva/creator lain apa adanya.
- Jika kamu memakai elemen (foto, ilustrasi, font) yang berlisensi dari Canva, pastikan penggunaan dan distribusinya sesuai ketentuan Canva.
- Beberapa elemen “Pro” bisa membuat pembeli tidak bisa menikmati template secara penuh kalau mereka bukan pengguna Pro (mereka bisa diminta upgrade atau mengganti elemen tersebut).
Catatan: ini bukan nasihat hukum. Untuk detail paling akurat, rujuk dokumen resmi Canva.
Praktik aman yang sering dipakai creator template: gunakan elemen gratis/elemen buatan sendiri, minimalkan aset Pro jika targetmu pengguna free, dan tulis catatan “Beberapa elemen mungkin memerlukan Canva Pro (jika ada).”
Cara Membuat Template Canva dari Nol
Kita mulai dari cara yang paling “bersih”: bikin template dari nol. Tujuannya bukan bikin desain super rumit, tapi bikin template yang:
- rapi,
- konsisten,
- mudah dipakai orang lain,
- bisa diubah tanpa merusak layout.
Berikut langkahnya.
1) Tentukan format dan tujuan template
Jangan mulai dari “pengen bikin template”, tapi mulai dari kebutuhan pengguna. Contoh:
- Instagram Post 1080×1080 untuk promosi produk,
- Instagram Story untuk testimoni,
- Carousel edukasi (multi-slide),
- Presentasi pitch deck,
- Flyer A4 untuk event.
Semakin jelas tujuan template, semakin mudah kamu menentukan struktur layout.
2) Tentukan “sistem desain” sederhana
Agar template terasa profesional, kamu perlu konsistensi. Minimal tentukan:
- 2–3 warna utama + 1 warna aksen,
- 2 font (judul + isi),
- gaya elemen (misalnya rounded corner atau tegas kotak),
- gaya ikon/ilustrasi (flat, outline, atau 3D—pilih salah satu).
Kalau kamu membuat bundle, sistem desain ini menjaga semua halaman terasa satu “keluarga”.
3) Buat 1 halaman master (layout dasar)
Mulailah dari satu halaman yang kamu anggap paling mewakili.
Tips layout yang bikin template enak dipakai:
- gunakan grid sederhana (misalnya 2 kolom),
- jaga margin kiri/kanan konsisten,
- gunakan jarak antar elemen yang rapi (spacing).
Setelah halaman master jadi, duplikat untuk membuat variasi.
4) Gunakan placeholder yang jelas
Template bukan desain final. Jadi isinya jangan terlalu “nyata”. Gunakan placeholder seperti:
- “Judul di sini”,
- “Subjudul di sini (maks 2 baris)”,
- “Foto produk”,
- “Harga”,
- “CTA: Klik link di bio”.
Kalau perlu, tambahkan catatan kecil: “Ganti foto di frame ini” atau “Gunakan 5–8 kata saja”.
5) Buat variasi yang benar-benar berguna
Orang membeli template karena ingin cepat. Maka variasi template harus memecahkan banyak kebutuhan umum.
Untuk contoh paket Instagram, variasi yang sering dicari: promo, testimoni, edukasi (carousel), QnA, dan pengumuman.
Targetkan 10–30 halaman dulu. Tidak harus 100 halaman kalau kualitasnya turun.
6) Rapikan nama halaman (Page titles)
Gunakan nama yang jelas (misalnya “Promo - Diskon”, “Testimoni - 1 Foto”) supaya orang cepat menemukan halaman yang dibutuhkan.
Cara Mengubah Desain Eksisting Menjadi Template
Kalau kamu sudah punya desain untuk bisnis kamu sendiri, itu bisa jadi bahan template yang bagus. Tapi jangan langsung share begitu saja.
Langkah amannya seperti ini.
1) Duplikat desain dulu
Buat salinan khusus untuk dijadikan template, supaya desain original kamu tetap aman.
2) Hilangkan elemen yang terlalu personal
Hapus atau ganti:
- logo brand kamu (ganti placeholder “Logo”),
- nomor WA, alamat, dan informasi spesifik,
- foto produk yang terlalu unik (kalau kamu tidak ingin tersebar),
- nama akun sosial media.
Tujuannya: template jadi netral dan bisa dipakai siapa pun.
3) Pastikan elemen mudah diedit
Yang sering bikin template “menyebalkan” adalah ketika teks atau elemen terkunci layout-nya.
Cek hal ini:
- ukuran font tidak terlalu besar sehingga gampang overflow,
- frame foto mudah diganti,
- komposisi tidak bergantung pada satu gambar tertentu.
4) Audit elemen Pro/berlisensi
Kalau kamu memakai aset Pro, pertimbangkan:
- ganti dengan aset gratis,
- atau beri catatan bahwa aset tertentu memerlukan Canva Pro,
- atau buat dua versi: versi Free-friendly dan versi Pro.
Ini penting supaya pembeli tidak merasa “ketipu” saat membuka template.
Checklist Template yang Siap Dipakai (dan Siap Dijual)
Sebelum kamu share atau jual, cek hal-hal berikut:
- Konsisten: warna dan font tidak campur aduk.
- Rapi: margin dan jarak antar elemen terasa stabil.
- Fleksibel: teks panjang masih bisa ditampung (minimal 1–2 baris tambahan).
- Tidak terlalu ramai: beri ruang kosong (white space) agar desain bernapas.
- Praktis: ada variasi halaman sesuai kebutuhan nyata.
- Instruktif: placeholder jelas, kalau perlu ada catatan singkat.
- Aman: tidak ada aset yang kamu tidak berhak distribusikan.
Kalau kamu menjual template, bonus kecil seperti panduan singkat (PDF 1 halaman) atau palet warna bisa menaikkan value.
Cara Membagikan Template: Template Link
Setelah desain template siap, kamu tinggal membuat link yang bisa “dicopy” oleh orang lain.
Secara umum alurnya seperti ini: 1. Buka desain template kamu di Canva. 2. Klik tombol Share/Bagikan. 3. Cari opsi yang berkaitan dengan Template link. 4. Salin link tersebut, lalu tes di mode incognito/private.
Tips: sebelum dijual, uji dulu dengan akun lain atau minta teman mencoba. Tujuannya untuk memastikan:
- semua halaman ikut tersalin,
- font tampil normal,
- elemen tidak hilang,
- jika ada elemen Pro, muncul pemberitahuan yang sesuai.
Ide Produk Template yang Laku
Kalau kamu bingung mau bikin template untuk siapa, ini beberapa ide yang biasanya punya demand tinggi:
- Template konten Instagram untuk UMKM (makanan, fashion, jasa).
- Template carousel edukasi untuk personal branding.
- Template katalog produk (multi-page).
- Template presentasi (proposal, company profile, pitch deck).
Kunci biar laku: jangan cuma “bagus”, tapi spesifik. Template “Instagram post” terlalu umum. Tapi template “Instagram post untuk coffee shop” atau “carousel edukasi untuk coach” biasanya lebih cepat ketemu pasarnya.
Penutup
Canva memudahkan siapa pun untuk membuat desain cepat—dan template adalah salah satu fitur yang bikin Canva terasa “powerful”. Template bisa berasal dari bawaan Canva, atau template link yang dishare teman/internet. Dan ya, kamu pun bisa membuat template sendiri, membagikannya lewat template link, bahkan menjadikannya produk digital.
- Fleksibel: teks panjang masih bisa ditampung (minimal 1–2 baris tambahan).
Share postingan ini:



